Minggu, 12 Maret 2017

Metalografi



PENDAHULUAN

1.1                    Latar Belakang
               Sebagai mana kita ketahui bahwa tiap – tiap material memiliki sifat – sifat mekanik yang berbeda, sifat – sifat tersebut sangat bergantung dari struktur mikro yang membentuk material itu sendiri. Dengan adanya struktur tersebut, suatu material akan mempunyai keunggulan seperti daya tahan terhadap korosi, kekerasan tinggi, mampu ditempa dan lain –lain. Semua hal ini dapat kita pelajari pada Metalografi yaitu suatu ilmu atau percobaan yang memeriksa struktur mikro suatu logam.
               Sifat – sifat tersebut harus diketahui oleh seorang teknisi apabila akan menggunakan suatu bahan untuk membuat kontruksi, salah satunya adalah dengan melakukan percobaan Metalografi. Metode pelaksanaannya adalah dengan cara menggerinda salah satu ujung benda uji dengan rata dan halus.
               Dalam perkembangan teknologi sekarang ini , metode seperti ini sudah banyak digunakan dalam industri. Terutama industri pengecoran logam dimana mereka dengan mudah dapat mengatur kadar karbon baja / besi seperti yang diinginkan.
1.2                    Manfaat Percobaan
a.    Dapat melihat struktur dari suatu logam.
b.   Dapat mengetahui karakteristik suatu bahan.
c.    Dapat mengetahui dampak perlakuan panas dan media pendingin terhadap karakteristik logam.
d.   Dapat melihat perbedaan setiap fasa logam yang diuji.
e.    Bertambahnya wawasan ketrampilan bagi para mahasiswa, yang selanjutnya dapat menjadi pengangan berharga dan mudah – mudahan dapat diaplikasikan secara nyata.



1.3                    Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah
1.        Mengamati struktur mikro, butir kristal, batas butir, ukuran butir, dan jumlah butir.
2.        Mengamati fasa – fasa yang ada pada logam.
3.        Mengamati cacat pada logam.
4.        Mengetahui pengaruh etsa dan waktu etsa terhadap struktur mikro.
1.4                    Kompetensi
               Pada percobaan Metalugrafi, penggerindaan benda uji haruslah sangat halus supaya tidak terlihatnya goresan, setelah benda uji di etsa baru akan dilihat mikro struktur daripada logam tersebut dengan menggunakan mikroskop, Sehingga kita dapat menentukan jenis logam tersebut dengan mengetahui karakteristiknya.


TEORI DASAR

2.1          Teori Dasar Pengujian
               Metalografi merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik mikrostruktur suatu logam dan paduannya serta hubungannya dengan sifat-sifat logam dan paduannya tersebut. Ada beberapa metode yang dipakai yaitu: mikroskop (optik maupun elektron), difraksi ( sinar-X, elektron dan neutron), analasis (X-ray fluoresence, elektron mikroprobe) dan juga stereometric metalografi. Pada praktikum metalografi ini digunakan metode mikroskop, sehingga pemahaman akan cara kerja mikroskop, baik optik maupun elektron perlu diketahui.
            Pengamatan metalografi dengan mikroskop umumnya dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Metalografi makro, yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran 10 – 100 kali,
  2. Metalografi mikro, yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran diatas100 kali.
Sebelum dilakukan pengamatan mikrostruktur dengan mikroskop maka diperlukan proses-proses persiapan sampel.
2.1.1       Struktur Mikro
Diagram kesetimbangan fasa Fe-FeC adalah alat penting untuk memahami struktur mikro dan sifat-sifat baja karbon.
               Karbon larut di dalam besi dalam bentuk larutan padat (solution) hingga 0,05% berat pada temperatur ruang. Baja dengan atom karbon terlarut hingga jumlah tersebut memiliki alpha ferrite pada temperatur ruang. Pada kadar karbon lebih dari 0,05% akan terbentuk endapan karbon dalam bentuk hard intermetallic stoichiometric compound (FeC) yang dikenal sebagai cementite atau carbide. Selain larutan padat alpha-ferrite yang dalam kesetimbangan dapat ditemukan pada temperatur ruang terdapat fase-fase penting lainnya, yaitu delta-ferrite dan gamma-austenite. Logam Fe bersifat polymorphism yaitu memiliki struktur kristal berbeda pada temperatur berbeda. Pada Fe murni, misalnya, alpha-ferrite akan berubah menjadi gamma-austenite saat dipanaskan melewati temperature 910°C.


Gambar 3.1 Diagram fasa Fe-FeC

               Pada temperatur yang lebih tinggi, mendekati 1400ºC gamma-austenite akan kembali berubah menjadi delta-ferrite. (Alpha dan Delta) Ferrite dalam hal ini memiliki struktur kristal BCC sedangkan (Gamma) Austenite memiliki struktur kristal FCC.

                      Gambar 3.2 Struktur BCC                                            Gambar 3.3 Struktur FCC
Ø      Ferrite
Ferrite adalah fase larutan padat yang memiliki struktur BCC (body centered cubic). Ferrite dalam keadaan setimbang dapat ditemukan pada temperatur ruang, yaitu alpha-ferrite atau pada temperatur tinggi, yaitu delta-ferrite. Secara umum fase ini bersifat lunak (soft), ulet (ductile), dan magnetik (magnetic) hingga temperatur tertentu, yaitu Tcurie. Kelarutan karbon di dalam fase ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan kelarutan karbon di dalam fase larutan padat lain di dalam baja, yaitu fase Austenite. Pada temperatur ruang, kelarutan karbon di dalam alpha-ferrite hanyalah sekitar 0,05%. Berbagai jenis baja dan besi tuang dibuat dengan mengeksploitasi sifat-sifat ferrite. Baja lembaran berkadar karbon rendah dengan fase tunggal ferrite misalnya, banyak diproduksi untuk proses pembentukan logam lembaran. Dewasa ini bahkan telah dikembangkan baja berkadar karbon ultra rendah untuk karakteristik mampu bentuk yang lebih baik. Untuk paduan baja dengan fase tunggal ferrite, faktor lain yang berpengaruh signifikan terhadap sifat-sifat mekanik adalah ukuran butir.

Ø      Pearlite

Pearlite adalah suatu campuran lamellar dari ferrite dan cementite. Konstituen ini terbentuk dari dekomposisi Austenite melalui reaksi eutectoid pada keadaan setimbang, di mana lapisan ferrite dan cementite terbentuk secara bergantian untuk menjaga keadaan kesetimbangan komposisi eutectoid. Pearlite memiliki struktur yang lebih keras daripada ferrite, yang terutama disebabkan oleh adanya fase cementite atau carbide dalam bentuk lamel-lamel.

Ø      Austenite

               Fase Austenite memiliki struktur atom FCC (Face Centered Cubic). Dalam keadaan setimbang fase Austenite ditemukan pada temperatur tinggi. Fase ini bersifat non magnetik dan ulet (ductile) pada temperatur tinggi. Kelarutan atom karbon di dalam larutan padat Austenite lebih besar jika dibandingkan dengan kelarutan atom karbon pada fase Ferrite. Secara geometri, dapat dihitung perbandingan besarnya ruang intertisi di dalam fase Austenite (atau kristal FCC) dan fase Ferrite (atau kristal BCC). Perbedaan ini dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena transformasi fase pada saat pendinginan Austenite yang berlangsung secara cepat. Selain pada temperatur tinggi, Austenite pada sistem Ferrous dapat pula direkayasa agar stabil pada temperatur ruang. Elemen-elemen seperti Mangan dan Nickel misalnya dapat menurunkan laju transformasi dari gamma-austenite menjadi alpha-ferrite. Dalam jumlah tertentu elemen - elemen tersebut akan menyebabkan Austenite stabil pada temperatur ruang.

Ø     Cementite

               Cementite atau carbide dalam sistem paduan berbasis besi adalah stoichiometric inter-metallic compund Fe3C yang keras (hard) dan getas (brittle). Nama cementite berasal dari kata caementum yang berarti stone chip atau lempengan batu. Cementite sebenarnya dapat terurai menjadi bentuk yang lebih stabil yaitu Fe dan C sehingga sering disebut sebagai fase metastabil. Namun, untuk keperluan praktis, fase ini dapat dianggap sebagai fase stabil. Cementite sangat penting perannya di dalam membentuk sifat-sifat mekanik akhir baja. Cementite dapat berada di dalam sistem besi baja dalam berbagai bentuk seperti: bentuk bola (sphere), bentuk lembaran (berselang seling dengan alpha-ferrite), atau partikel-partikel carbide kecil. Bentuk, ukuran, dan distribusi karbon dapat direkayasa melalui siklus pemanasan dan pendinginan. Jarak rata-rata antar karbida, dikenal sebagai lintasan Ferrite rata-rata (Ferrite Mean Path), adalah parameter penting yang dapat menjelaskan variasi sifat-sifat besi baja. Variasi sifat luluh baja diketahui berbanding lurus dengan logaritmik lintasan ferrite rata-rata.

Ø      Martensite  

               Martensite adalah mikro konstituen yang terbentuk tanpa melalui proses difusi. Konstituen ini terbentuk saat Austenite didinginkan secara sangat cepat, misalnya melalui proses quenching pada medium air. Transformasi berlangsung pada kecepatan sangat cepat, mendekati orde kecepatan suara, sehingga tidak memungkinkan terjadi proses difusi karbon. Transformasi martensite diklasifikasikan sebagai proses transformasi tanpa difusi yang tidak tergantung waktu (diffusionless time-independent transformation). Martensite yang terbentuk berbentuk seperti jarum yang bersifat sangat keras (hard) dan getas (brittle). Fase martensite adalah fase metastabil yang akan membentuk fase yang lebih stabil apabila diberikan perlakuan panas. Martensite yang keras dan getas diduga terjadi karena proses transformasi secara mekanik (geser) akibat adanya atom karbon yang terperangkap pada struktur kristal pada saat terjadi transformasi polimorf dari FCC ke BCC. Hal ini dapat dipahami dengan membandingkan batas kelarutan atom karbon di dalam FCC dan BCC serta ruang intertisi maksimum pada kedua struktur kristal tersebut.
Ø      Ladeburit
               Merupakan campuran halus antara fase perlite dan fase simentit, karena kandungan simentit lebih banyak maka fase ladeburit mempunyai sifat yang sangat getas dan keras.
2.1.2       Diagram T-T-T Kurva S
               Diagram TTT juga disebut diagram S atau diagram transformasi isothermal. Dengan diagram ini dapat dilihat perubahan struktur bila logam dibiarkan pada suhu konstan tertentu.

Gambar 3.4 Diagram TTT kurva S
               Untuk memperoleh struktur martensit, baja harus dicelupkan dengan cepat sehingga kurva pendinginan tidak memotong kurva transformasi. Pada kedua kurva TTT jelas bahwa sedikit di bawah temperatur kritis A, laju transformasi rendah meskipun pada transformasi ini mobilitas atom cukup tinggi. Hal ini disebabkan setiap perubahan fasa yang timbul akibat faktor permukaan dan energi regangan. Jika temperatur dibawa ke lutut kurva, laju transformasi meningkat. Terjadinya kelambanan pada proses ini disebabkan pada waktu pembentukan bainit temperatur agak rendah. Pada bagian temperatur 250°C - 300°C ternyata transformasi berlangsung sangat cepat. Untuk diagram fasa TTT hanya dapat diperlakukan pada baja karbon rendah. Jika baja dicelup pada daerah di bawah 200°C maka akan terbentuk martensit seiring baja tersebut dicelup dalam media pendingin ini, dan pada suhu kritis terbentuk austenit stabil yaitu atom mulai bergerak secara acak. Bentuk umum dari kurva transformasi-waktu-suhu berbeda untuk jenis baja. Perlu diketahui bahwa bentuk dari kurva waktu-suhu-transformasi berbeda untuk jenis baja yang berlainan. Tergantung pada kadar karbon unsur paduan,dan faktor besar butir austenit. Untuk itu agak sulit untuk membentuk martensit pada pencelupan baja lipoeutektoid. Baja karbon dengan komposisi eutectoid lebih mudah dikeraskan.
2.1.3       Proses Perlakuan Panas
               Perlakuan panas adalah proses untuk memperbaiki sifat-sifat dari logam dengan jalan memanaskan coran sampai temperatur yang cocok, lalu dibiarkan beberapa waktu pada temperatur itu, kemudian didinginkan ke temperatur yang lebih rendah dengan kecepatan yang sesuai. Perlakuan panas yang dilaksanakan pada coran adalah pelunakan temperatur rendah, pelunakan, penormalan, pengerasan dan penemperan. Heat treatment hanya bisa dilakukan pada logam campuran yang pada temperatur kamar mempunyai struktur mikro dua fase atau lebih. Sedang pada temperatur yang lebih tinggi fase-fase tersebut akan larut menjadi satu fase. Cara yang dipakai ialah dengan memanaskan logam sehingga terbentuk satu fase, kemudian diikuti dengan pendinginan cepat. Dengan cara ini pada temperatur kamar akan terbentuk satu fase yang kelewat jenuh. Bila logam dalam keadaan tersebut dipanaskan maka fase-fase yang larut akan mengendap.

Ø      Macam - macam perlakuan panas
               Secara umum langkah pertama heat treatment adalah memanaskan logam atau paduan itu sampai suatu temperatur tertentu, lalu menahan beberapa saat pada temperatur tersebut, kemudian mendinginkanya dengan laju pendinginan tertentu. Komposisi dari baja sangat mempengaruhi struktur mikro yang akan terjadi, disamping perlakuan-perlakuan yang dialami logam atau baja sebelumnya. Secara garis besar proses perlakuan panas dapat dibedakan menurut tingginya temperature dan laju pendinginanya. Proses laku panas dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
· Proses perlakuan panas yang menghasilkan struktur yang seimbang seperti :
Anealling, normalizing.
· Proses perlakuan panas yang menghasilkan struktur yang tidak seimbang seperti
halnya pada hardening.
1.                   Anealling ( Pelunakan Coran )
               Aniliasi ( pelunakan ) coran dilakukan dengan memanaskanya sampai temperatur yang cukup tinggi kemudian didinginkan perlahan-lahan dalam tungku yang dipakai untuk melunakan. Dalam proses anealing baja harus dipanaskan melalui suhu pengkristalan kembali untuk membebaskan tegangan–tegangan dalam baja. Kemudian mempertahankan pemanasanya pada suhu tinggi untuk membuat sedikit pertumbuhan butir–butiran dan suatu struktur austenit, eterusnya didinginkan secara perlahan-lahan untuk membuat suatu struktur perlit. Baja menjadi cukup lunak sehingga dapat dikerjakan dengan mesin.Baja anil kurang keuletanya dibandingkan dengan hasil laku panas lainya akan tetapi baja anil membentuk geram yang baik sewaktu pemesinan.
2.                   Normalizing
               Normalisasi dilakukan untuk mendapatkan struktur mikro dengan butir yang halus dan seragam. Proses ini dapat diartikan sebagai pemanasan dan mempertahankan pemanasan pada suhu yang sesuai diatas batas perubahan diikuti dengan pendinginan secara bebas didalam udara luar supaya terjadi perubahan ukuran butiran-butiran. Hal tersebut membuat ukuran menjadi seragam dan juga untuk memperbaiki sifat-sifat mekanik dari baja tersebut. Pada proses ini baja dipanaskan untuk membentuk struktur austenit direndam dalam keadaan panas, dan seterusnya didinginkan secara bebas di udara. Pendinginan yang bebas akan menghasilkan struktur yang lebih halus daripada struktur yang dihasilkan dengan jalan anealing. Pengerjaan mesin juga akan menghasilkan permukaan yang lebih baik.
3.                   Pengerasan ( Hardening )
               Pengerasan biasanya dilakukan untuk memperoleh sifat tahan aus yang tinggi atau kekuatan yang lebih baik. Pengerasan dilakukan dengan memanaskan baja sampai ke daerah austenit lalu mendinginkanya dengan cepat, dengan pendinginan yang cepat ini terbentuk martensit yang kuat. Temperatur pemanasannya, lama waktu tahan dan laju pendinginan untuk pengerasan banyak tergantung pada komposisi kimia dari baja. Kekerasan maksimum yang dapat dicapai tergantung pada kadar karbon dalam baja. Kekerasan yang terjadi pada benda akan tergantung pada temperature pemanasan, waktu tahan dan laju pendinginan yang dilakukan pada proses laku panas, disamping juga pada harden ability baja yang dikeraskan.

Senin, 13 Februari 2017

Electroplating



BAB I
PENDAHULUAN
I.I        Latar belakang.

            Jutaan dolar hilang setiap tahunnya karena korosi, sebagian dari kerugian ini disebabkan oleh korosi besi dan baja, meskipun logam lainnya dapat menimbulkan korosi juga, korosi adalah poses oksidasi sebuah logam akibat percampuran suatu bahan elektrolit dengan udara, dimana udara atau elektrolit akan mengalami reduksi, sehingga terjadinya karat pada logam.
            Korosi dapat terjadi oleh,air yang mengandung garam dan logam akan bereaksi secara elektrokimia dalam larutan garam (elektrolit) proses elektrokimia akan terbentuk anoda dan katoda pada sebatang logam.
Untuk mencegah terjadinya korosi, beberapa atau cara yang sering dilakukan yaitu:
Ø  Mengecat permukaan logam
Ø  Galvanisasi (perlindungan katoda)
Ø  Elektroplating
Ø  dan lain-lain.
Cara yang akan dibahas pada laporan ini yaitu elektroplating ,elektroplating adalah pelapisan logam yang lain secara elektrolisa, logam pelapisannya adalah logam yang kadar korosinya sangat kecil yaitu tembaga, nikel, dan chrom. Proses elektroplating ini berguna untuk menjaga bahan terhadap gesekan.
1.2       Tujuan Elektroplating:
            Adapun tujuan dari elektroplating, yaitu:
a.       Untuk mencegah korosi.
b.      Untuk memperindah permukaan logam dasar.
c.       Untuk meningkatkan ketahanan dari pada permukaan logam (ketahanan terhadap gesekan).
d.      Meningkatkan daya hantar listrik.
BAB II
TEORI DASAR

2.1       Teori dasar Elektroplating.
Dalam dunia logam ada beberapa teknik pelapisan terhadap logam, diantaranya yaitu lapis seng / zink, galfanis, perak, emas, brass, tembaga, nickel,chrome/ krom.
Nikel atau elektroplating nikel  adalah salah satu teknik pelapisan logam yang bertujuan untuk melapisi logam agar tahan terhadap karat dan juga untuk menambah keindahan logam yang di lapis.
Proses elektroplating dilaksanakan dalam sebuah bak yang berisi larutan elektrolit dicelupkan dua buah elektroda (Anoda) dan sebuah benda kerja (Katoda) dimana kedua anoda dan katoda dihubungkan power supply (Rectifier) arus yang mengalir dari kedua elektroda ke power supply adalah arus searah (DC) sedangkan arus dari power supply ke sumber arus adalah arus bolak-balik (AC) larutan elektroda yang digunakan harusm sesuai dengan logam pelapis, yang bertindak sebagai anoda berupa katup positif dan yang bertindak sebagai katoda berupa katup negatif..
Yang terjadi pada anoda merupakan reaksi reduksi, sedangkan pada katoda merupakan reaksi oxydasi pada anoda mekanisme berfungsi untuk penggantian ion logam yang menempel pada katoda, pada katoda reaksi berubah ion logam menjadi logam yang kemudian menempel pada permukaan elektroda.




Gambar 1. Prinsip dasar proses elektroplating.

Perhitungan pada elektroplating (tembaga, Nikel, Chrom ) dengan menggunakan Hukum faraday. “Hukum faraday merupakan salah satu hukum yang berhibungan dengan proses elektroplating yang menyatakan bahwa dengan adanya arus yang mengalir dalam larutan elektrolit, maka terjadilah gerakan ion dan penetralan ion” hubungan antara arus listrik yang mengalir dengan jumlah logam yang dibebaskan kedalam larutan tersebut dinyatakan oleh faraday.
·         Jumlah logam yang terbentuk pada elektroda suatu sel sebanding dengan arus yang mengalir.
·         Jumlah logam yang diuraikan oleh arus listrik yang sama dalam sel yang berbeda sebanding dengan berat okivalen logam tersebut.
·         Bila evisiensi arus 100% maka berat logam yang diendapkan adalah sebanding lurus dengan arus yang mengalir melalui larutan dan sebanding dengan berat ekivalen logam waktu elektrplating.
Ø  Nilai ketentuan
·         Tembaga
Densiti = 8933kg/m3
     Valensi = 2
     Berat atom =63,54 kg/m3
·         Nikel
Densiti = 8907kg/m3
     Valensi = 2
     Berat atom =58,71kg/m3
·          Croom
Densiti = 7194kg/m3
     Valensi = 3
     Berat atom =58,71 kg/m3


 Ø  Rumus mendapatkan luas permukaan.
                L=  2 { ( P.L) + (L . t) + (P . t) }
            Dimana:
            L = Luas permukaan.
            P = Panjang.
            L = lebar

Ø  Rumus untuk mendapatkan berat logam yang diendapkan.
                 
            Dimana:
            W = Berat logam yang diendapkan.
              I = kuat arus.
              T= Waktu pelapisan.
              A=Besar atom logam.
              Z = Valensi logam.
              F = Bilangan (farade terapan) 96500 Coulom.   

 
Ø  Rumus perhitungan tebal lapisan.
                
 
            T=tebal lapisan.
            i = Rapat arus.
            A=Besar atom logam.
            Z = Valensi logam.
            F = Tetapan parade.

Ø    Rumus perhitungan waktu pelapisan.
           
            Dimana :
              T = Waktu pelapisan.
              #        = tebal lapisan.
              i= rapat arus.
              A=Besar atom logam.
              Z = Valensi logam.
              F = Bilangan (farade terapan) 96500 Coulom.

2.2       Mekanisme proses elektroplating.
2.2.1    Mekanisme pelapisan nikel
                     Dalam proses elektrolisa nikel terjadi reaksi pada katoda, yaitu proses-proses reduksi dari ion-ion nikel bantuan electron-elektron yang berasal dari sumber arus searah
Reaksinya adalah :
                               Ni 2+  + 2e - → Ni o
                               2H+   +2e   → H2
Sedangkan pada anoda terjadi reaksi oxidasi, reaksinya adalah :
                               Ni     Ni 2+ + 2 e
                                         4OH → O2 + 2 H2O + 4 e




Gambar  2. Mekanisme Pelapis

2.2.2    Mekanisme Pelapisan Chrom.
            Dalam pelapisan Chrom, mekanisme perpindahan ion-ion dan proses terjadinya pembentukan senyawa chromyang bervalensi tiga, terjadi perpindahan. Ion darilarutan ke katoda tidaklah mudah, karena chrom yang ada dalam larutanmerupakan senyawa asam komplek, dalam hal ini dapat digambarkan secara sederhana :
                                  


Gambar 3.  Proses Pelapisan Chrom

            Pada mulanya reaksi terjadi dikatoda , dan anoda paduan Pb terjadi penguraian oksigen beserta mengirimkan elektron-elektron ke katoda terjadi perekdusian garam komplek Chrom menjadi logam Chrom yang menempel dikatoda.
            Dengan adanya anoda paduan Pb dan uraianya oksigen dipermukaan anoda, maka dapat menetralkan kandungan ion-ion Hodroksida, sehingga dapat mencegah terbentuknya garam tersebut. Oleh sebab itu konsentrasi Chrom adalah larutan asam berkurang, denga adanya komponen-komponen tersebut diatas, rendaman diharapkan mempunyai kemampuan untuk mendapatkan kualitas baik. Rendaman harus memiliki covering power dan levelling power.

2.3       Faktor Yang Harus Diperhatikan Agar Proses Elektroplating        Menghasilkan Lapisan Yang Baik.
2.3.1    Tahap Preseatment.
            Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dan mempemgaruhi keberhasilan dalam proses elektroplating, Oleh karena itu tahap Preseatment  harus dilaksanakan dengan baik agar tidak menimbulkan kegagalan.
            Adapun tahap preseatment sebagai berikut:
1.        Pembersihan dengan cara mekanis, yaitu dengan menggunakan kertas amplas agar permukaan tidak mengandung korosi.
2.        Tahap rinse(pencucian dengan aquades).
3.        Alkaline klianing (dengan larutan NhoH)
4.        Tahap rinse(pencucian dengan aquades).
5.        Pichling(proses pembersihan logam dasar dengan asam agar tidak terjadi penempelan lemak-lemak pada permukaan logam dasar, larutan yang digunakan adalah asam klorida).
6.        Tahap rinse(pencucian dengan aquades).
7.        Memulai proses elektroplating.




Ada beberapa faktor lain yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1.        Cairan.
o  Cairan yang digunakan yaitu cairan yang mudah menghantarkan arus listrik dan sesuai dengan logam pelapis.
o  Cairan harus betul-betul bersih dari kotoran, agar lapisan yang dihasilkan menempel dengan sempurna.
2.        Suhu larutan , Rapat arus.
o  Suhu larutan harus sesuai yang telah dicamtumkan, agar larutan dapat bereaksi dengan optimal.
o  Rapat arus harus sesuai dengan ketebalan yang diinginkan, rapat arus yang lama akan membentuk kehitaman pada logam ( terbakar ).




BAB III
PERALATAN YANG DI GUNAKAN

3.1       Alat- alat yang digunakan.
o   Pemanas listrik.
o   Pengaduk larutan.
o   Penyaringan.
o   Termometer.
o   Kawat pengikat.
o   Timbangan.
o   Beker glass.
o   Gelas ukur.

 3.2      Bahan Yang Digunakan.
o   Baja ST 37.
o   Kertas amplas.
o   Aquades..
o   Asam klorida.
o   CuSO4 . 5H2O.
o   H2SO4.
o   Zat adektif.
·           Pelapisan Tembaga
-          CuSO4 . 5H20
-          H2SO4
-          Zaat Aditive

·           Nikel.
-          NiSO4 . 6H20
-          NiCL2  . 6H20
-          H3BO4
-          Zaat Aditive
·                     Chrom.
-          CrO3
-          H2SO4
3.3       Cara Kerja.
Adapun cara kerja pembuatan elektroplating.
1.      Persiapkan benda kerja dengan ukuran 5 x 5 cm, dan amplas permukaan untuk menghilangkan korosi.
2.      Bilas dalam air aquadest selama 1-2 menit.
3.      Bersihkan dengan larutan Alkaline Cleaning dengan suhu 800 selama 5 menit.
4.      Bilas dalam air aquadest selama 1-2 menit.
5.      Bersihkan benda kerja dengan menggunakan asam klorida ( HCL ).
6.      Bilas dalam air aquadest selama 1-2 menit.
7.      Proses pelapisan dengan Tembaga.
8.      Bilas dalam air aquadest selama 1-2 menit.
9.      Proses pelapisan Nikel.
10.  Bilas dalam air aquadest selama 1-2 menit.
11.  Proses pelapisan Chrom.
12.  Setelah proses pelapisan Chrom, maka benda kerja dikeringkan.

3.4       Bagan Alir Proses Pelapisan Tembaga,Nikel, Dan Chrom




















BAB IV
DATA DAN PENGOLAHAN DATA
 4.1     Data  dari benda kerja






































Keterangan:
            L= lebar benda kerja(mm)
            P= panjang benda kerja (mm)
            T= tebal benda kerja (mm)
  

4.2     Pengolahan data
4.2.1 Menghitung luas benda kerja
Dik   :  P = 5 cm
            L = 3 cm
            t = 1mm = 0,1cm
dit : L (luas).......?
Penyelesaian:
L        =  2 { ( P.L) + (L . t) + (P . t) }
         =  2 { (5 .3) + (3 .0,1) + (5 . 0,1) }
          =  2 { (15) + (0,30) + (0,50) }
= 2 (15,8)
=  31,6 cm2  =  0,316 dm2         

4.2.2  Pelapisan Tembaga
·      Menghitung arus
I        =  Luas x i
          =  0,316 dm2 x 4 ampere/dm2
I        =  1,264 Ampere.

·      Menghitung Waktu Pelapisan.

 
                
       Jadi waktu yang di perlukan untuk melapisi tembaga dengan tebal 3  micrometer yaitu 10 menit




4.2.3  Pelapisan Nikel
·      Menghitung arus
I        =  Luas x i
          =  0,316 dm2 x 5 ampere/dm2
I        =  1,58 Ampere.

·      Menghitung Waktu Pelapisan.

 
                
       Jadi waktu yang di perlukan untuk melapisi nikel dengan tebal 3 micrometer yaitu 9  menit








4.2.4  Pelapisan Chrom
·      Menghitung arus
I        =  Luas x i
          =  0,316 dm2 x 27ampere/dm2
I        =  8,532 Ampere.

·      Menghitung Waktu Pelapisan.

 
                
       Jadi waktu yang di perlukan untuk melapisi Chrom dengan tebaal 3 micrometer yaitu 2 menit