Senin, 13 Februari 2017

Alignment


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
            Alignment merupakan  salah satu proses pemeliharaan atau perawatan pada elemen mesin  pemindahan putaran atau daya, agar perlengkapan yang digunakan  dapat berfungsi secara maksimal dan mencegah kerusakan elemen-elemen mesin lainnya pada perlengkapan mesin akibat kesalahan pada saat pemasangan atau pemeliharaan.
Guna memperpanjang masa penggunaan suatu mesin maka sangat diperlukan perawatan pada mesin-mesin, salah satu caranya yaitu dengan melakukan alignment pada mesin tersebut.
Pada laporan ini penulis akan membahas alignment pada mesin uji lelah yang berada di bengkel teknologi mekanik.

1.2              Tujuan percobaan
Alignment dilakukan untuk memelihara elemen mesin pemindah putaran atau daya, yang meliputi :
  1. Merawat sabuk penggerak ”vee” agar tahan lama
  2. Merawat puli dan mengukur toleransinya yang diizinkan.
  3. Merawat atau memeriksa kebengkokkan poros penggerak.



BAB II
TEORI DASAR

2.1              Pengertian Alignment
Alignment adalah proses pensejajaran sumbu pemutar dan terhadap sumbu yang diputar.
Proses alignment dilakukan pada saat bagian mesin yang berputar tidak sejajar  dan tidak sebaris dengan sumbu porosnya. Tanda-tanda gejala awal yang terjadi bahwa mesin tersebut perlu di alignment adalah :
-          Terjadinya getaran yang tidak normal disekitar komponen, terutama pada poros timbul suara yang tidak normal
-          Terjadinya panas yang berlebihan pada bantalan.
-          Penyimpangan menyudut sumbu poros arah vertikal dan arah horizontal.
-          Penyimpangan kesebarisan puli.
-          Sabuk ”vee” tidak tahan lama.
Bagian-bagian yang di alignment pada mesin uji adalah :
-          puli
-          poros pengerak
-          kedudukan mesin

2.2              Pengertian dan Prinsip Kerja Mesin Perkakas Mesin Bor.
Salah satu mesin perkakas yang peling sederhana yang digunakan dalam produksi dan pengerjaan adalah mesin bor atau gurdi. Pengeboran adalah membuat lubang pada sebuah objek dengan menekan sebuah perkakas atau mata potong yang sedang berputar. Pahat potong (mata bor) pada umumnya dibuat berbentuk helix, yang berfungsi untuk mrmungkinkan lewatnya serpihan dan fluida pemotong.





2.3              Bagian-Bagian Mesin Bor
Bagian utama mesin bor antara lain:
a.       tiang penyangga
b.      ulir pengangkat
c.       meja
d.      motor
e.       spiddel dan chuk
f.       box pengatu kecepatan
g.      tuas penekan

2.4              Jenis-jenis penyimpangan pada alignment
a.      Penyimpangan pada sabuk penggerak “vee” dan puli
Sabuk penggerak “vee” adalah sabuk yang menghubungkan antara poros penggerak dan poros yang digerakkan.
Biasanya penyimpangan yang terjadi pada puli yang tidak centerline sehingga sabuk dan puli cepat rusak.

b.      Penyimpangan pada kedudukan mesin
Salah satu penyebab tidak banyak kita ketahui, bahwa kedudukan inilah yang mempengaruhi kinerja mesin atau hasil dari penyayatan benda kerja yang kita bor, jika kedudukan mesin tidak normal maka hasil dari pengeboran terlalu dalam dan tidak sejajar.





BAB III
PERALATAN DAN BAHAN

3.1  Alat-alat
Sebelum melakukan pengerjaan Alignment, persiapkan terlebih dahulu semua peralatan dan bahan yang dibutuhkan.
Peralatan  perkakas yang dibutuhkan adalah :
.
·         Kunci 10 pas ring
·         Obeng negative
·         Kunci L
·         “ Exractor “ luar
Alat ukur yang dibutuhkan adalah :
·         Jangka Sorong
·         Mistar Ukur
·         Dial Indiukator
·         Micrometer

3.2  Bahan
Bahan praktek yang digunakan adalah sebuah mesin bor yang berada di lab Mekanik mesin dengan komponen yang di alignment yaitu :
·         Puli
·         Sabuk penggerak “vee”
·         poros

           



BAB IV
LANGKAH-LANGKAH KERJA

4.1    Langkah-langkah kerja
Sebelum melakukan pekerjaan alignment sediakanlah safety tools guna menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Adpun langkah-langka kerja untuk melakukan alignment adalah: .
1.      Persiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan
2.      Gunakan peralatan sesuai pada tempatnya
3.      Periksa setiap bagian poros, puli dan sabuk penggerak pada saat motor sebelum bekerja maupun sedang bekerja.
4.      Lakukan pengukuran untuk menentukan ketegak lurusan, kebulatan dan kehausan pada puli menggunakan dial indicator.
5.      Lakukan pemeriksaan kebengkokan pada poros penggerak dan poros yang digerakkan, Gunakan dial indicator.
6.      lumasi oli / pelumas pada bagian – bagian yang terjadi gesekan.
7.      lakukan penyetelan / nglepel pada kedudukan mesin agar terjadi keseimbangan.
8.      Tulislah setiap hasil pemeriksaan.
9.      bersihkan tempat kerja setelah mengaligment

4.2 Gambar kerja



 
                                                               Gambar 1:  Mesin Bor




BAB V
PERMASALAHAN

5.1  Analisa Data

5.1.1        Analisa data pada puli
Dari survey yang dilakukan, maka hasil pengukuran untuk menentukan diameter dalam, diameter luar dan lebar puli menggunakan jangka sorong.


 


Gambar 2: puli

Tabel 1 : pengukuran Dimensi puli pada motor
Dimensi
D
D
B
Hasil pengukuran 1
13,9 mm
 59,5 mm
13.5 mm
Hasil pengukuran 2
14 mm
59,5  mm
13,6 mm
Hasil pengukuran 1
13,9 mm
82,2 mm
14,25 mm
Hasil pengukuran 2
14 mm
82 mm
14,25 mm
Hasil pengukuran 1
13,9 mm
101,85 mm
13.8 mm
Hasil pengukuran 2
14 mm
101,85 mm
14  mm
Hasil pengukuran 1
82,4 mm
121,8 mm
14,4 mm
Hasil pengukuran 2
82,4 mm
121,8 mm
14,1 mm
Hasil pengukuran 1
111,6 mm
142,5 mm
15,9 mm
Hasil pengukuran 2
111,6 mm
142,45 mm
15,75 mm



Tabel 2 : Pengukuran Dimensi puli pada handle Bor
Dimensi
D
D
B
Hasil pengukuran 1
14  mm
 59,5 mm
13.6 mm
Hasil pengukuran 2
14 mm
59,5  mm
13,6 mm
Hasil pengukuran 1
14 mm
82,2 mm
14,25 mm
Hasil pengukuran 2
14 mm
82 mm
14,25 mm
Hasil pengukuran 1
14 mm
101,8 mm
13.8 mm
Hasil pengukuran 2
14 mm
101,8 mm
14  mm
Hasil pengukuran 1
82,4 mm
121,8 mm
14,4 mm
Hasil pengukuran 2
82,4 mm
121,8 mm
14,1 mm
Hasil pengukuran 1
111,6 mm
142,5 mm
15,9 mm
Hasil pengukuran 2
111,6 mm
142,45 mm
15,75 mm

Pengukuran untuk menentukan ketegaklurusan, kebulatan dan keausan alur “vee” pada puli menggunakan dial indikator.



 
Gambar 3. puli

Tabel 3 : pengukuran kebulatan dan ketegak lurusan pada Puli
Langkah Pengukursn
Ukuran kebulatan
Ukuran ketegaklurusan
Hasil pengukuran 1
15°
Hasil pengukuran 2
12°

Tabel 4 : pengukuran keausan pada Puli
Langkah pengukuran
Keausan
Bidang 1
Bidang 2
Hasil pengukuran 1
10°
Hasil pengukuran 2

5.1.2        Analisa data pada sabuk penggerak “vee”
Dari pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Sabuk tidak terjadi kerusakan




Gambar 4. Sabuk vee

5.1.3        Analisa data pada poros dudukan puli
Lakukan pemeriksaan kebengkokkan terhadap poros sistem penggerak dan digerakkan






                         Gambar 5.motor listrik



Tabel 5 : kebengkokan Poros pada motor


Kebengkokan Poros
Hasil Pengukuran 1
5
5
Hasil Pengukuran 2
6
5,5




Lakukan pengukuran diameter luar poros dudukan puli menggunakan jangka sorong.





 Gambar 6. Poros dudukan puli




Tabel 6 : Analisa data pada poros dudukan puli
Langkah Pengukuran
Posisi 1
Posisi 1
A
b
A
b
Hasil pengukuran 1
34,47 mm
34,45 mm
32,30 mm
32,35 mm
Hasil pengukuran 2
34,47 mm
34,45 mm
32,30 mm
32,35 mm

Periksa suaian diantara pasak dengan dudukan pasak pada poros dan puli perbaiki apabila terjadi kerusakan.






Gambar 7. Dudukan pasak

Hitung besar defleksi yang diinginkan berdasarkan jarak diantara sumbu pusat poros pada saat pemasangan



 Gambar 8. defleksi

a.       Jarak antara sumbu pusat poros                                        =  383 mm
b.      Besar defleksi yang diizinkan                                           =  30 mm
c.       Besar defleksi yang dipasang                                           =  25 mm
d.      Gaya yang dibutuhkan untuk mencapai defleksi              =  10 kg





BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

            Setelah dilakukan pengamatan pada sabuk penggerak, puli, poros dan kedudukan mesin, maka dapat diberi kesimpulan. Adapun kesimpulannya adalah sebagai berikut :
6.1  Kesimpulan
  • Pada  kedua puli mengalami kehausan
  • Pada kedua  puli mengalami kebalingan.
  • Pada poros mengalami kebalingan.
  • Tidak ter jadi penyimpangan aligment
  • Besar defleksi 25 mm

6.2. Saran
  • Agar mesin dapat selalu beroperasi dengan baik,setiap komponen - komponenya harus selalu  di periksa dan di rawat secara berkala.
  • Ganti sabuk penggerak apabila sabuk sudah rusak.
  • Periksa secara berkala kondisi kedudukan mesin agar mesin dapat digunakan semaksimal mungkin.





DAFTAR PUSTAKA

  1. Politeknik Manufaktur Bandung
  2. Job sheet agliment lab perawatan dasar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar